Cimahi – Di era modern yang pergerakannya serba cepat dan tanpa sekat, memiliki kecerdasan akademik saja tidak lagi cukup untuk memenangkan persaingan global. Calon pemimpin masa depan dituntut untuk memiliki visi yang melampaui batas-batas teritorial, kemampuan membaca arah zaman, serta keberanian untuk mengambil risiko.
Menjawab tantangan tersebut, SMA Taruna Nusantara Kampus Cimahi kembali menunjukkan komitmennya dalam mencetak generasi unggul dengan menggelar Sharing Session berskala besar bertajuk “Beyond Borders: Berani Bermimpi, Siap Mendunia” pada Sabtu (21/02/2026).
Kegiatan ini sukses menyedot antusiasme ratusan siswa yang memenuhi ruangan. Acara ini bukan sekadar ajang reuni atau motivasi biasa, melainkan sebuah forum pemindahan pengetahuan (knowledge transfer) yang menghadirkan tiga figur representatif dari Ikatan Alumni Taruna Nusantara (Ikastara). Ketiga narasumber ini merupakan representasi kesuksesan di tiga pilar berbeda: operasional bisnis, kepemimpinan korporasi, dan pencapaian akademik internasional.
Menjadi Subjek atas Masa Depan Sendiri
Sesi pertama diisi oleh Bapak Yuli Cahyono (Alumni TN 6), yang kini menjabat sebagai Co-Founder sekaligus Chief Operating Officer (COO) di salah satu perusahaan terkemuka. Dalam paparannya, beliau menyoroti transisi penting yang harus dilalui oleh setiap taruna: dari sekadar ‘objek’ yang menerima pelajaran, menjadi ‘subjek’ yang aktif mendesain peta jalan hidupnya sendiri.
Membangun bisnis dan karier dari bawah mengajarkan beliau bahwa peluang tidak datang kepada mereka yang pasif.
“Siswa adalah subjek, maka ambil, resapi, dan manfaatkan pengalaman yang kalian dapatkan agar dapat berguna dengan optimal,” tegas Bapak Yuli.
Pesan ini menyiratkan bahwa seluruh tempaan di kawah candradimuka Kampus Cimahi—baik disiplin bangun pagi, dinamika berorganisasi di OSIS dan MPK, hingga tekanan dalam kegiatan ekstrakurikuler—adalah kepingan pengalaman bernilai mahal yang kelak akan menjadi modal utama saat terjun ke masyarakat.

Anatomi Kepemimpinan Strategis di Era Disrupsi
Materi kemudian diperdalam oleh Bapak Jeremiah Ratadhi (Alumni TN 6), seorang profesional yang memegang posisi strategis sebagai Direktur HR XL Smart. Mengelola sumber daya manusia di perusahaan teknologi berskala besar memberikan beliau wawasan tajam mengenai kriteria pemimpin yang dicari oleh dunia saat ini.
Kepada para siswa, Bapak Jeremiah memberikan sebuah pedoman tiga langkah (three-step compass) yang sangat fundamental bagi seorang calon pemimpin:
“Know Your Edge, Read The Future, Own The Consequences.”
- Know Your Edge (Kenali Keunggulanmu): Siswa dituntut untuk menemukan keunikan dan potensi maksimal dalam diri mereka yang membedakan mereka dari ribuan kandidat lain di luar sana.
- Read The Future (Baca Masa Depan): Mengajarkan kepekaan terhadap tren global, perkembangan teknologi, dan pergeseran geopolitik agar tidak tertinggal oleh laju zaman.
Own The Consequences (Tanggung Jawab atas Konsekuensi): Puncak dari kepemimpinan adalah integritas. Seorang pemimpin harus berani mengambil keputusan dan secara ksatria menanggung seluruh dampaknya.

Menembus Panggung Akademik Dunia, Sebuah Perjalanan Mengenali Diri
Melengkapi dua perspektif profesional sebelumnya, panggung kemudian diisi oleh representasi energi muda yang luar biasa, yakni Ibu Desak Putu Queenara (Alumni TN 33). Beliau hadir membuktikan bahwa mimpi menembus panggung dunia adalah hal yang sangat mungkin dicapai setelah ia berhasil memborong 16 Letter of Acceptance (LoA) dari berbagai kampus bergengsi di luar negeri.
Pencapaian fantastis ini tentu mengundang decak kagum para siswa. Namun, Ibu Desak mengingatkan bahwa di balik deretan surat penerimaan tersebut, terdapat proses panjang yang penuh perjuangan mental. Persiapan aplikasi, esai, hingga wawancara beasiswa internasional sejatinya adalah proses kontemplasi yang mendalam.
“It’s about finding moment and yourself,” ujar Ibu Desak membagikan refleksinya.
Ia menekankan bahwa langkah pertama untuk menaklukkan dunia justru dimulai dari langkah ke dalam diri sendiri. Mengetahui apa yang benar-benar menjadi passion, kelemahan, dan tujuan hidup adalah kunci utama untuk meyakinkan dunia internasional bahwa kita layak berdiri di sana.

Dari Cimahi, Untuk Dunia
Rangkaian pemaparan dari ketiga tokoh inspiratif ini menciptakan resonansi semangat yang kuat di dada para taruna. Rangkaian pesan tersebut telah bermutasi menjadi sebuah “panggilan” bagi para siswa untuk segera membongkar batasan mental mereka (breaking the mental block).
Semangat yang ditanamkan dalam Sharing Session ini diharapkan terus membumi dalam keseharian siswa—menumbuhkan kepercayaan diri yang kokoh, memperluas cakrawala berpikir, dan menyuntikkan keberanian untuk melampaui batas zona nyaman.
Setiap langkah tegak, setiap lembar buku yang dibaca, dan setiap keringat yang menetes di lapangan SMA Taruna Nusantara Kampus Cimahi hari ini adalah fondasi dan pijakan nyata untuk menyongsong kompetisi global.
Dari Cimahi, mengepakkan sayap untuk dunia!
